Standar Operation Procedure (SOP) penting bagi organisasi atau perusahaan yang memiliki infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi.

Berikut adalah contoh SOP pengelolaan jaringan komputer:

  1. Tujuan Tujuan dari SOP ini adalah untuk memberikan panduan bagi staf IT dalam pengelolaan jaringan komputer di perusahaan.
  2. Lingkup SOP ini mencakup semua aspek pengelolaan jaringan komputer di perusahaan, termasuk perencanaan, pemasangan, konfigurasi, pemantauan, pemeliharaan, dan pemecahan masalah.
  3. Referensi SOP ini didasarkan pada kebijakan dan prosedur yang telah ditetapkan oleh manajemen perusahaan dan mengacu pada standar industri terkait.
  4. Tanggung Jawab. Pengelola jaringan bertanggung jawab untuk mengelola semua aspek jaringan komputer di perusahaan, termasuk perencanaan, pemasangan, konfigurasi, pemantauan, pemeliharaan, dan pemecahan masalah. Staf IT yang terlibat dalam pengelolaan jaringan juga bertanggung jawab untuk mematuhi SOP ini.
  5. Perencanaan. Perencanaan jaringan meliputi pemilihan perangkat jaringan, topologi jaringan, dan protokol jaringan yang akan digunakan. Perencanaan juga melibatkan perencanaan kapasitas untuk memastikan jaringan dapat menangani beban kerja yang diinginkan. Sebelum pemasangan, perencanaan jaringan harus dikoordinasikan dengan departemen yang terkait.
  6. Pemasangan dan Konfigurasi. Pemasangan dan konfigurasi jaringan meliputi pemasangan perangkat keras dan perangkat lunak, pengaturan alamat IP, dan konfigurasi protokol jaringan. Pemasangan dan konfigurasi harus dilakukan sesuai dengan panduan produsen dan standar industri terkait.
  7. Pemantauan dan Pemeliharaan. Pemantauan dan pemeliharaan jaringan meliputi pemantauan kinerja jaringan, pembaruan perangkat lunak dan firmware, backup data, dan pemeliharaan perangkat jaringan. Pemantauan dan pemeliharaan harus dilakukan secara teratur sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan.
  8. Pemecahan Masalah. Pemecahan masalah jaringan meliputi identifikasi dan penyelesaian masalah jaringan, termasuk masalah perangkat keras, perangkat lunak, dan konfigurasi jaringan. Staf IT harus mampu mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah jaringan dengan cepat dan efektif untuk meminimalkan downtime jaringan.
  9. Pembaruan SOP SOP ini harus diperbarui secara teratur untuk mencerminkan perubahan dalam teknologi dan standar industri terkait. Pembaruan SOP harus dikoordinasikan dengan manajemen perusahaan dan departemen terkait.

Demikianlah contoh SOP pengelolaan jaringan komputer. SOP ini dapat disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan dan standar industri terkait.

OSI Layer adalah model referensi standar untuk komunikasi jaringan. Model ini membagi komunikasi jaringan menjadi 7 lapisan (layer), masing-masing lapisan memiliki tugas dan fungsi yang berbeda. Model OSI terdiri dari:

  1. Lapisan Fisik (Physical Layer): Merupakan lapisan paling bawah dalam model OSI. Lapisan ini bertanggung jawab untuk mengatur aspek fisik jaringan, seperti pengiriman bit, pengendalian akses ke medium transmisi, dan pengaturan tingkat signal.
  2. Lapisan Data Link (Data Link Layer): Lapisan ini bertanggung jawab untuk memastikan bahwa data yang dikirimkan melalui jaringan sudah benar dan tidak hilang. Lapisan ini juga memastikan bahwa paket data yang diterima dalam keadaan baik dan dapat diteruskan ke lapisan berikutnya.
  3. Lapisan Jaringan (Network Layer): Lapisan ini bertanggung jawab untuk mengatur routing dan menentukan jalur terbaik bagi data untuk diteruskan melalui jaringan.
  4. Lapisan Transportasi (Transport Layer): Lapisan ini bertanggung jawab untuk memastikan bahwa data yang diterima sama dengan data yang dikirimkan, dan memastikan bahwa data diterima dalam urutan yang benar.
  5. Lapisan Sesi (Session Layer): Lapisan ini bertanggung jawab untuk memastikan bahwa koneksi jaringan tetap stabil dan memastikan bahwa sesi jaringan berjalan dengan benar.
  6. Lapisan Presentasi (Presentation Layer): Lapisan ini bertanggung jawab untuk mengatur format data sebelum diteruskan ke lapisan aplikasi.
  7. Lapisan Aplikasi (Application Layer): Lapisan ini merupakan lapisan teratas dalam model OSI. Lapisan ini bertanggung jawab untuk memberikan akses ke aplikasi jaringan dan mengatur interaksi antara aplikasi dan jaringan.

Model OSI membantu untuk memahami bagaimana data diteruskan melalui jaringan dan memastikan bahwa data dapat diterima dengan benar oleh tujuannya. Setiap lapisan memiliki tugas dan fungsi yang berbeda, dan bekerja sama untuk memastikan bahwa komunikasi jaringan berjalan dengan lancar dan aman.

Pengamanan jaringan layer 1

Pengamanan jaringan layer 1 (atau fisik) melibatkan proteksi terhadap akses fisik ke perangkat jaringan, seperti switch, router, atau modem. Berikut adalah beberapa cara untuk memastikan pengamanan pada tingkat fisik:

  1. Locking cabinet: Menggunakan kunci untuk memastikan bahwa perangkat jaringan hanya dapat diakses oleh orang yang berhak.
  2. Kabel anti-pemotongan: Menggunakan kabel anti-pemotongan untuk memastikan bahwa koneksi jaringan tidak dapat diputuskan dengan mudah.
  3. Alarm sistem: Menggunakan sistem alarm untuk memberikan peringatan apabila ada perubahan fisik pada perangkat jaringan.
  4. Kamera pengintai: Menempatkan kamera pengintai di dekat perangkat jaringan untuk memantau aktivitas dan memastikan bahwa hanya orang yang berhak yang mengakses perangkat tersebut.
  5. Perangkat jaringan yang dilengkapi dengan fitur keamanan: Beberapa perangkat jaringan modern dilengkapi dengan fitur keamanan, seperti autentikasi pengguna, firewall, atau enkripsi, untuk memastikan bahwa perangkat hanya dapat diakses oleh orang yang berhak.

Penting untuk memastikan bahwa jaringan Anda dilindungi pada tingkat fisik agar data dan informasi yang disimpan dalam jaringan tidak terancam oleh akses fisik yang tidak sah.

Pengamanan jaringan layer 2

Pengamanan jaringan layer 2 (Data Link Layer) melibatkan proteksi terhadap akses jaringan pada tingkat enkapsulasi data dan pengiriman paket. Berikut adalah beberapa cara untuk memastikan pengamanan pada tingkat layer 2:

  1. Media Akses Kontrol (MAC) Filtering: Menggunakan MAC filtering untuk membatasi akses ke jaringan hanya pada perangkat yang terdaftar.
  2. Enkripsi Data: Menggunakan enkripsi untuk memastikan bahwa data yang diteruskan melalui jaringan tidak dapat dibaca oleh pihak yang tidak berhak.
  3. Protokol Authentication: Menggunakan protokol autentikasi seperti 802.1X untuk memastikan bahwa hanya perangkat yang memenuhi syarat yang diperbolehkan untuk mengakses jaringan.
  4. VLAN: Menggunakan Virtual Local Area Network (VLAN) untuk membagi jaringan menjadi sub-jaringan yang terpisah dan membatasi akses ke jaringan.
  5. Spanning Tree Protocol (STP): Menggunakan STP untuk memastikan bahwa jaringan tidak mengalami loop dan untuk memastikan bahwa paket data diteruskan melalui jalur terbaik.
  6. Link Aggregation Control Protocol (LACP): Menggunakan LACP untuk memastikan bahwa beberapa tautan jaringan digabungkan dan diteruskan sebagai satu tautan jaringan, memastikan bahwa jaringan tetap berfungsi jika salah satu tautan jaringan gagal.

Penting untuk memastikan bahwa jaringan Anda dilindungi pada tingkat Data Link Layer untuk memastikan bahwa data dan informasi yang disimpan dalam jaringan tidak terancam oleh akses jaringan yang tidak sah dan bahwa data diteruskan dengan benar dan aman.

Pengamanan Jaringan Layer 3

Pengamanan jaringan layer 3 (Network Layer) bertujuan untuk melindungi jaringan dari serangan dan kegagalan pada tingkat routing dan pengalamatan. Berikut adalah beberapa cara untuk memastikan pengamanan pada tingkat layer 3:

  1. Firewall: Menggunakan firewall untuk membatasi akses jaringan dan memblokir serangan yang tidak sah.
  2. Virtual Private Network (VPN): Menggunakan VPN untuk memungkinkan akses aman ke jaringan dari lokasi jarak jauh.
  3. Router Authentication: Menggunakan autentikasi router untuk memastikan bahwa hanya perangkat yang memenuhi syarat yang diperbolehkan untuk mengakses jaringan.
  4. Access Control Lists (ACLs): Menggunakan ACLs untuk membatasi akses jaringan dan memblokir serangan yang tidak sah.
  5. Routing Protocol Authentication: Menggunakan autentikasi protokol routing untuk memastikan bahwa hanya perangkat yang memenuhi syarat yang diperbolehkan untuk berpartisipasi dalam routing.
  6. IP Spoofing Prevention: Menggunakan teknik untuk mencegah IP Spoofing, di mana serangan berusaha untuk mengirimkan paket dengan alamat IP palsu untuk mengakses jaringan.
  7. Address Resolution Protocol (ARP) Spoofing Prevention: Menggunakan teknik untuk mencegah ARP Spoofing, di mana serangan berusaha untuk mengklaim alamat IP yang tidak sah untuk mengakses jaringan.

Penting untuk memastikan bahwa jaringan Anda dilindungi pada tingkat Network Layer untuk memastikan bahwa jaringan dapat berfungsi dengan benar dan memastikan bahwa data dan informasi yang disimpan dalam jaringan tidak terancam oleh serangan yang tidak sah.

Pengamanan Jaringan Layer 4

Pengamanan jaringan layer 4 (Transport Layer) bertujuan untuk melindungi jaringan dari serangan dan kegagalan pada tingkat pengiriman data. Berikut adalah beberapa cara untuk memastikan pengamanan pada tingkat layer 4:

  1. Secure Socket Layer/Transport Layer Security (SSL/TLS): Menggunakan SSL/TLS untuk mengenkripsi data yang diteruskan melalui jaringan dan memastikan bahwa data tersebut tidak dapat dibaca oleh pihak yang tidak berwenang.
  2. Network Address Translation (NAT): Menggunakan NAT untuk membatasi akses jaringan dan memblokir serangan yang tidak sah.
  3. TCP/IP Filtering: Menggunakan filtering pada protokol TCP/IP untuk membatasi akses jaringan dan memblokir serangan yang tidak sah.
  4. Denial of Service (DoS) Prevention: Menggunakan teknik untuk mencegah serangan DoS, di mana serangan berusaha untuk membuat jaringan tidak dapat berfungsi dengan benar dengan mengirimkan jumlah besar paket data.
  5. Session Initiation Protocol (SIP) Authentication: Menggunakan autentikasi SIP untuk memastikan bahwa hanya perangkat yang memenuhi syarat yang diperbolehkan untuk mengirim dan menerima data melalui jaringan.
  6. Port Knocking: Menggunakan port knocking untuk membatasi akses jaringan dan memblokir serangan yang tidak sah.

Pengamanan Sesion Layer

Pengamanan pada Session Layer bertujuan untuk melindungi jaringan dari serangan dan kegagalan pada tingkat sesi antar perangkat. Berikut adalah beberapa cara untuk memastikan pengamanan pada tingkat Session Layer:

  1. Session Management: Menggunakan manajemen sesi yang baik untuk memastikan bahwa hanya sesi yang sah yang diizinkan untuk berlangsung dan menjaga catatan dari sesi-sesi yang telah selesai.
  2. Session Encryption: Menggunakan enkripsi untuk mengenkripsi sesi dan memastikan bahwa sesi hanya dapat dibaca oleh perangkat yang memenuhi syarat.
  3. Session Timeouts: Menggunakan timeouts sesi untuk memastikan bahwa sesi yang tidak aktif ditutup secara otomatis setelah periode waktu tertentu.
  4. Session Authentication: Menggunakan autentikasi sesi untuk memastikan bahwa hanya perangkat yang memenuhi syarat yang diperbolehkan untuk mengakses sesi.
  5. Session Authorization: Menggunakan otorisasi sesi untuk memastikan bahwa hanya perangkat yang memiliki izin yang diperbolehkan untuk mengakses sesi dan melakukan aksi tertentu.
  6. Session Firewalls: Menggunakan firewall sesi untuk membatasi akses jaringan dan memblokir serangan yang tidak sah.

Penting untuk memastikan bahwa jaringan Anda dilindungi pada tingkat Session Layer untuk memastikan bahwa sesi antar perangkat dapat berlangsung dengan benar dan aman dan memastikan bahwa jaringan dapat berfungsi dengan benar dan tersedia untuk digunakan.

Pengamanan Presentation Layer

Pengamanan pada Presentation Layer bertujuan untuk melindungi integritas dan privasi data yang dikirimkan antar sistem dalam jaringan. Beberapa teknik pengamanan yang dapat digunakan pada Presentation Layer antara lain:

  1. Enkripsi: Data dienkripsi sebelum dikirimkan untuk melindungi privasi informasi.
  2. Kompresi: Data dikompresi untuk mempercepat transmisi dan mengurangi ukuran data.
  3. Authentikasi: Sistem menggunakan metode autentikasi untuk memastikan bahwa data hanya dapat diterima oleh penerima yang sah.
  4. Digital signatures: Data ditandatangani secara digital untuk memastikan integritas dan autentisitas data.
  5. Error detection and correction: Algoritma error detection dan correction digunakan untuk memastikan integritas data selama transmisi.

Pengamanan Jaringan Layer 7 atau Aplikasi

Pengamanan pada Application Layer bertujuan untuk melindungi aplikasi dan sistem dalam jaringan dari ancaman keamanan seperti serangan jaringan, virus, malware, dan lainnya. Beberapa teknik pengamanan yang dapat digunakan pada Application Layer antara lain:

  1. Firewall: Firewall digunakan untuk membatasi akses jaringan dan melindungi sistem dari serangan jaringan.
  2. Autentikasi: Sistem menggunakan metode autentikasi untuk memastikan bahwa hanya pengguna yang sah yang dapat mengakses aplikasi dan sistem.
  3. Enkripsi: Data dienkripsi sebelum dikirimkan untuk melindungi privasi informasi.
  4. Input validation: Input yang diterima dari pengguna dipastikan valid dan aman untuk mencegah serangan seperti SQL injection.
  5. Patch management: Aplikasi dan sistem harus diperbarui secara berkala untuk memastikan bahwa mereka tetap aman dan bebas dari ancaman keamanan yang baru.

Penerapan teknik pengamanan pada Application Layer sangat penting untuk memastikan bahwa aplikasi dan sistem dalam jaringan tetap aman dan terlindungi dari ancaman keamanan.

Akses point WiFi pada umumnya menggunakan antena omni direksional. Sinyal dipancarkan ke semua arah agar semua perangkat dapt terkoneksi. Omni direksional sangat bagus digunakan untuk jaringan wireless jarak dekat.

Perangkat untuk Point to Point (PtP) atau Point to Multi Point (PtMP) di desain untuk komunikasi data jarak jauh fokus ke satu atau beberapa titik. Berbeda dengan akses poin di ruangan atau WiFi hotspot yang menyebar ke segala arah. PtP digunakan untuk menghubungkan 2 titik jaringan. Satu sebagai Akses Point (AP) dan lagi satu sebagai Station. PtMP digunakan untuk menghubungkan satu titik ke beberapa titik.

Dari segi penyedia, perangkat yang umum digunakan adalah Ubiquiti (UBNT), Mikrotik dan Ruijie Wireless. Jaringan wireless menggunakan radio yang bekerja pada frekuensi tertentu.

Berikut adalah contoh perangkat jaringan dari Ubiquiti yang dapat dipilih sesuai dengan kebutuhan dan tentu saja anggaran :

  1. Airmax AC
  2. NanStation
  3. LiteBeam
  4. NanoBeam
  5. PowerBeam
  6. AirFiber. Bandwidth besar PtP.
  7. LTU
  8. Rocket
  9. GigaBeam

Pemilihan perangkat jaringan tergantung pada jarak coverage perangkat. Pengukuran jarak udara dapat menggunakan aplikasi Airlink dari Ubiquiti

Link PtP dengan jarak kurang dari 5 Kilometer, perangkat yang bisa digunakan :

  • NanoStation 5AC Loco
  • NanoStation 5AC
  • NanoBeam 5AC Gen 2
  • AirFiber 5XHD, 24, or 24HD

Link PtP dengan jarak antara 5 sampai dengan 15 Kilometer, perangkat yang bisa digunakan :

  • LiteBeam 5AC
  • PowerBeam 5AC
  • PowerBeam ISO
  • IsoStation AC
  • AirFiber 5, 5XHD

PtP dengan jarak di atas 15 Kilometer, maka perangkat yang digunakan :

  • Rocket 5AC + Antenna
  • AirFiber 5XHD + Antenna
  • AirFiber 11FX + Antenna

Perangkat PtMP untuk Base Station :

  • Rocket5AC Lite
  • Rocket5AC Prism
  • LiteAP AC
  • IsoStation 5AC
  • PrismStation 5AC
  • LTU Rocket

Perangkat PtMP untuk Station :

  • NanoBeam 5AC Gen 2
  • LiteBeam 5AC
  • PowerBeam 5AC
  • Rocket 5AC Lite + Antenna (for long distance)
  • LTU Lite, LTU LR, or LTU Pro

Teknologi jaringan wireless sudah berkembang sangat cepat. Terakhir WiFi 6 sudah mengukung kecepatan diatas 1Gigabits. Lalu mengapa untuk akses internet masih menggunakan kabel?

Kabel ethernet atau biasa disebut dengan kabel ( LocalArea Network) LAN atau kabel UTP adalah kabel yang digunakan untuk menghubungkan perangkat seperti PC, Laptop, Smart TV atau Playstation ke router atau switch untuk mendapat koneksi internet. WiFi bekerja menyebarkan koneksi melalui perangkat radio frekuensi di udara dari router ke perangkat penerima dimana dalam perjalanannya kemungkinan ada gangguan.

Kabel LAN dapat menyalurkan bandwidth sampai 1 Gigabits jika perangkat Router atau Switch dan LAN card yang digunakan mendukung Gigabits. Sementara kecepatan internet yang didapat ditentukan oleh kecepatan langganan internet dari ISP anda. Jika anda berlangganan internet lebih dari 100 Mbps

Menggunakan koneksi internet menggunakan kabel akan lebih stabil karena tidak ada interferensi dan penghalang dalam komunikasi datanya.

Kabel UTP yang biasa digunakan dalam LAN menggunakan konektor RJ 45. Anda bisa membeli kabel LAN yang sudah dilengkapi konektor RJ 45 dengan panjang beberapa meter. Atau menyambung sendiri konektor RJ 45 menggunakan tang crimping.

Cara menggunakan kabel LAN untuk akses internet :

  • Sambungkan ujung konektor RJ 45 ke port LAN pada PC atau Laptop dan satu ujungnya ke Router.
  • Jika port di Router sudah di set sebagai DHCP server maka anda tidak perlu memasukkan alamat IP di PC atau laptop.

Kebutuhan akan koneksi internet yang stabil dan tanpa kuota di rumah – rumah semakin meningkat di masa pandemi. Penyedia jasa internet atau ISP besar yang ada di Indonesia seperti Telkom, Biznet, Indosat, Xl Home, CBN belum bisa menjangkau kebutuhan internet sampai ke pedesaan terkendala infrastruktur jaringan.

Hal ini membuka peluang bagi masyarakat untuk membuka usaha penyediaan koneksi internet yang terjangkau bagi masyarakat. Lalu hal apa saja yang perlu diperhatikan sebelum membuka usah internet ini? Berikut adalah beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk membuat usaha penyediaan jaringan internet selain modal dan kemampuan teknis :

  1. Legalitas

Penyediaan akses internet atau telekomunikasi diatur oleh beberapa regulasi. Izin untuk penyediaan jasa telekomunikasi dikeluarkan oleh pemerintah pusat bukan oleh pemerintah daerah. Namun jika anda ingin menjual kembali koneksi internet, sebaiknya bergabung dan menjadi reseller dari ISP yang memiliki ijin dan tergabung dalam Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII).

2. Perangkat Jaringan

Secara umum ada dua metode akses internet yang bisa digunakan, yaitu dengan kabel dan tanpa kabel (Wireless). Untuk jarak dekat atau perumahan bisa menggunakan kabel UTP atau Fiber Optik. Untuk jarak jauh bisa menggunakan radio wireless dengan frekuensi yang bebas digunakan yaitu 2,4 GHz dan 5,8 GHz. Perlu diperhatikan jika menggunakan frekuensi 5,8 GHz untuk memperhatikan batas frekuensi yang boleh digunakan sesuai dengan Permen Kominfo No 1 2019.

Kebutuhan akan koneksi internet yang stabil (broadband) sampai ke rumah – rumah penduduk semakin meningkat. Tapi disisi lain penyedia jasa layanan internet (ISP) belum bisa menjangkau rumah penduduk terutama yang jauh dari kota. Koneksi internet broadband membutuhkan infrastruktur berupa kabel atau wireless sampai ke rumah – rumah.

RT RW Net awalnya adalah upaya swadaya masyarakat untuk mendapatkan koneksi internet yang cepat dan murah di rumah masing – masing. Sekelompok masyarakat dalam satu RT/RW atau komplek perumahan membuat jaringan Local Area Network (LAN) dan berlangganan satu koneksi internet untuk dibagi bersama – sama.

Sebenarnya tidak ada masalah jika masyarakat membuat jaringan dan berbagi koneksi internet dalam satu area, asalkan perangkat yang digunakan tidak mengganggu. Misalnya, menggunakan frekuensi yang legal untuk jaringan wireless atau jika menggunakan kabel fiber optik tidak mengganggu fasilitas umum.

Namun karena adanya celah bisnis dalam penyediaan layanan internet ini, banyak orang memulai usaha jasa penyediaan internet dalam skala kecil. Pelaku usaha ini ingin usahanya memiliki ijin sebagai aspek legalitas.

Berikut adalah beberapa regulasi bekaitan dengan penyediaan jasa telekomunikasi :

1. Undang Undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi
2. Peraturan Pemerintah No 52 tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Telekomunikasi.
3. Keputusan Mentri Perhubungan No 21 tahun 2001 dan perubahannya.

Berdasarkan peraturan di atas maka intinya penyediaan jasa internet bisa dilakukan oleh badan usaha tetapi ijin dan persyaratannya ditentukan oleh pemerintah pusat atau Kementrian. Sehingga pemerintah Kabupaten / Kota tidak bisa mengeluarkan ijin atau memberikan rekomendasi terkait penyediaan akses internet.

Terkait dengan ijin mendirikan tiang di pinggir jalan, biasanya diatur oleh peraturan Bupati atau Desa/kelurahan

Baca juga :

  1. Cara Mengukur Koneksi Jaringan Wireless Menggunakan Airlink UBNT
  2. Memilih Koneksi Internet Via Satelit
  3. Pilihan akses internet di desa.
  4. Langkah – Langkah Mengakses Internet Wireless
  5. Hal – Hal Yang Perlu Diperhatikan Sebelum Membuat Usaha Penyedia Jaringan Internet

Solusi untuk akses internet untuk rumah yang ada di luar kota adalah dengan radio wireless. Wifi kencang di rumah semakin penting di era pandemi. Internet menggunakan paket data dari jaringan selular sangat boros kuota apalagi jika dalam satu rumah ada banyak perangkat yang mengakses internet. Ada beberapa ISP yang menyediakan jaringan internet tanpa kabel untuk menjangkau rumah atau vila yang berjarak puluhan kilo meter. Ada juga yang berbagi koneksi internet antara satu tempat lain yang dikenal dengan istilah ” menembak wifi”.

Internet Wireless

Berikut adalah langkah langkah agar bisa mengakses internet secara wireless:

  1. Survey lokasi

Sebelum memasang perangkat penerima sinyal internet secara wireless, harus dipastikan kedua tempat tidak ada penghalang, baik itu bukit, pohon atau bangunan. Selain melihat langsung dari lokasi, bisa juga menggunakan aplikasi UBNT Airlink. Dengan aplikasi ini maka dapat ditentukan ketinggian antena yang akan dipasang.

2. Tentukan Perangkat yang digunakan

Secara umum perangkat yang tersedia di pasaran ada dua yaitu yang bekerja pada frekuensi 2,4 GHz dan 5,8 GHz. Perangkat 5,8 GHz bekerja lebih baik untuk jarak karena interferensi lebih minim.Perlu diketahui bahwa frekuensi 2,4 Ghz sudah banyak penggunanya sehingga kita harus menyesuaikan channel yang digunakan. Merek yang umum dipakai adalah UBNT, Mikrotik, TP Link dan Tenda.

3. Pemasangan Perangkat Antena

Jika menggunakan tiang monopole atau pipa maka pastikan tiang tidak bisa berputar karena akan mempengaruhi kualitas sinyal yang diterima. Setelah terpasang perlu dilakukan pointing atau mengarahkan antena untuk mendapat sinyal terbaik.

Ada kalanya koneksi tiba – tiba putus lalu tersambung kembali. Wifi yang ada dipasaran bekerja pada frekuensi 2,4 Ghz atau 5,8 Ghz. Pada frekuensi tersebut masing – masing perangkat akses point masih bisa ditentukan channel yang kita gunakan. Untuk frekuensi 2,4Ghz ada 14 channel yang dapat dipilih namun di beberapa region hanya 11 channel yang boleh digunakan. Jika ada banyak akses poin berdekatan dalam satu area dan menggunakan channel yang sama maka akan terjadi interferensi yang mengakibatkan koneksi perangkat ke akses poin terputus.

Secara default akses poin indihome misalnya yang menjadi satu dengan ONT disetting channelnya auto. Jika dalam satu area tidak ada akses poin lain tentu ini tidak menjadi masalah.

Untuk mengetahui Wifi yang ada beserta channel yang digunakan bisa menggunakan aplikasi Wifi Analizer. Dengan aplikasi ini akan terlihat wifi akses poin yang tersedia beserta dengan frekuensi yang digunakan, channel yang dipakai, kekuatan sinyal dan detail akses poin yang digunakan.

Baca juga :

Mayoritas masyarakat masih mengakses internet menggunakan paket data melalui jaringan seluler. Sinyal merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kecepatan internet yang kita gunakan. Saat ini kualitas jaringan terbaik yang bisa kita dapatkan adalah 4G. Dengan jaringan 4G kecepatan rata – rata internet yang dapat dinikmati adalah sekitar 5 – 10 Mbps tergantung dari operator dan paket yang kita gunakan.

Salah satu aplikasi yang bisa digunakan untuk mengetahui berapa kecepatan internet melalui jaringan selular ini adalah Opensignal. Selain untuk mengetahui kecepatan akses dari masing masing operator seluler yang ada, kita juga bisa melihat cakupan area sinyal dan lokasi menara BTS.

Sebagai contoh untuk area Singaraja – Bali, kecepatan internet dari operator seluler yang ada adalah :

  1. Three Unduh : Download 10 Mbps dan Upload 4,5 Mbps
  2. Indosat : Download 6,7 Mbps dan Upload 2,8 Mbps
  3. Smartfren :Download 3,7 Mbps dan Upload 0,7 Mbps
  4. Telkomsel :Download 11,3 Mbps dan Upload 4,6 Mbps
  5. Xl :Download 7,3 Mbps dan Upload 3,6 Mbps

Meningkatnya kebutuhan koneksi internet dan banyaknya aplikasi yang digunakan oleh instansi perangkat daerah di pemerintah daerah sehingga membutuhkan infrastruktur jaringan intranet yang menghubungkan antar SKPD.

Manfaat jaringan intranet antar SKPD terutama jaringan pita lebar menggunakan media fiber optik atau wireless antara lain :

  1. Akses aplikasi pada server lokal tanpa bandwidth internet. Aplikasi yang ada pada pusat data pemerintah daerah dapat diakses melalui jaringan intranet dengan lebih aman karena ada pada jaringan tertutup.
  2. Langganan bandwidth internet terpusat. Dengan adanya jaringan intranet antar SKPD ini maka pengadaan bandwidth internet dapat dipusatkan di satu tempat sehingga lebih murah. Internet yang terpusat ini juga lebih mudah diatur kecepatannya tergantung penggunaan pada masing – masing instansi menggunakan bandwidth management.
  3. Integrasi semua aplikasi dan layanan publik pada dalam satu jaringan sehingga bisa langsung di hubungkan dengan command center Pemerintah Daerah.

Cara pengadaan jaringan intranet ada beberapa macam :

  1. Membangun sendiri jaringan intranet mulai dari perencanaan, pembangunan dan pemeliharaan. Jika menggunakan jaringan fiber optik maka harus dipikirkan topologi jaringan yang digunakan, perangkat yang dibutuhkan dan penempatan tiang atau ditanam di jalan raya.
  2. Sewa Layanan Jaringan Metro dari penyedia jasa. Dengan cara ini Pemerintah daerah tinggal menyewa jaringan termasuk perangkat yang digunakan. Namun