Thursday , 19 October 2017
Home » Kabupaten Buleleng » Perkembangan Kota Singaraja

Perkembangan Kota Singaraja

Tanggal 30 Maret 2013 kota Singaraja genap berusia 409 tahun. Usia yang cukup tua untuk sebuah kota. Dalam rentang waktu 409 tahun, kota Singaraja tentu sudah mengalami banyak dinamika.
Berikut adalah sedikit petikan sejarah dinamika kota Singaraja dari tanggal 30 Maret 1604 hingga sekarang.
Tahun 1875 pemerintah belanda membangun sekolah rendah yang pertama di Bali yang bernama Tweede Klasse School. Sekarang sekolah ini bernama Sekolah Dasar no 1 Paket Agung yang terletak di sebelah timur kantor Bupati Buleleng. Raden Soekemi Sosrodihardjo, ayah dari Ir. Soekarno, ditugaskan untuk mengajar di sekolah ini. Disini beliau bertemu dengan Ida Ayu Nyoman Rai yang kemudian menikah dan dari dari hasil pernikahannya lahirlah Soekarno yang kemudian menjadi Presiden Indonesia yang pertama.
Buleleng dan Kepala Daerahnya :
Pada tanggal 23 Agustus 1945, Mr I Gusti Ketut Pudja diangkat sebagai Gubernur Sunda Kecil dengan ibukota nya Singaraja.
Kepala Daerah Swapraja 1955-1960 adalah Bagus Made Berata
Swapraja adalah istilah yang berarti wilayah yang memiliki pemerintahan sendiri. Ini merupakan istilah dari jaman kolonila Belanda.
1960 -1967 Ida Bagus Mahadewa
1967 – 1978 Hartawan Mataram
     Yang bisa diingat dari kota Singaraja tahun 70-an adalah kejayaan dari bioskopnya. Tercatat beberapa bioskop yang ada di kota Singaraja seperti Karya Dharma yang kemudian berubah nama menjadi Wijaya yang terletak di perempatan jalan Diponegoro di belakang toko kaset ASEAN yang kini sudah tutup seiring perkembangan dari era kaset menjadi era digital. Muda Ria, bioskop ini terletak di jalan Ngurah Rai di sebelah sekolah Bhaktiasa. Bekas bangunannya sekarang sudah menjadi swalayan kebutuhan bayi, Clandys. Bioskop selanjutnya adalah Singaraja Theater yang diletak di sekitaran eks pelabuhan Buleleng. Bekas bioskop ini sekarang menjadi pusat pertokoan, Singaraja Square. Jadi bukti kejayaan bioskop di Kota Singaraja itu sekarang sudah tidak bisa dilihat lagi.
1978 – 1988 Drs Nyoman Tastera
1988 – 1993 Drs. Ketut Ginantra
       Salah satu gagasan Drs. Ketut Ginantra sewaktu menjabat Bupati Buleleng adalah membangun Pura Jagatnatha di tengah kota Singaraja, bekas lapangan letkol Wisnu di depan Polres Buleleng. Pembangunan pura ini didasari atas banyaknya pelajar dan mahasiswa yang beragama Hindu di Singaraja yang pada saat upacara agama tidak bisa pulang kampung untuk melakukan persembahyangan. Mengingat Singaraja adalah kota pelajar. Peletakan batu pertama dilaksanakan pada tanggal 9 april 1993 dan ngenteg linggih pada tanggal 4 juli 1993. Pada saat purnama dan tilem pura ini memang selalu ramai oleh pelajar/mahasiswa untuk bersembahyang.
1993 – 2003 Drs. Ketut Wiratha Sindhu.
Tanggal 21 Oktober 1999 merupakan masa kelam dari kota Singaraja. Kekalahan Megawati sebagai Presiden membawa dampak besar bagi Singaraja. Kantor – kantor pemerintah dibakar dan dijarah masa.
Per tanggal 2 januari 2002 digantikan oleh I Ketut Wijana
2002 -2012 Drs. Putu Bagiada
Awal pemerintahan Drs Putu Bagiada memang berat karena harus membangun kembali gedung – gedung yang terbakar. Namun demikian Bagiada mampu mempercantik kota Singaraja. Lapangan Ngurah yang berdebu dan tidak terawat mulai ditata menjadi taman yang kemudian di kenal dengan Taman Kota Singaraja.
2012- sekarang Putu Agus Suradnyana
Kota Singaraja adalah kota kecil di Bali utara dengan masyarakat multi kultural. Ini bisa dilihat dari  berbagai komunitas etnis yang ada seperti Tionghoa dan Arab.

About budarsa

Bloger tahap belajar. Bekerja sebagai pegawai di pemkab Buleleng, Bali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*